Jumat, 01 Maret 2019

Teks Editorial


Kemuliaan Guru yang Dirampas Zaman

Guru merupakan sosok panutan yang seharusnya ditiru. Di tangan dialah dititipkan kamu muda untuk dikembangkan menjadi insan yang menjunjung tinggi moralitas dan martabat kemanusiaan. Jangan tanyakan berapa gaji yang diperoleh dari seorang guru karena itu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Dedikasi dan jasa guru pada upaya pencerdasan bangsa akan selalu terukir, sekalipun napas sudah berpisah dari raga.
 Namun, pandangan anak muda ini terhadap figur mulia seorang guru mulai luntur. Hal ini tercermin dari banyaknya kasus yang menimpa guru. Guru seolah berada di persimpangan jalan. Dalam menjalankan tugasnya, guru sering dibayangi dengan berbagai ancaman mulai dari yang ringan sampai dengan masuk ke dalam jeruji besi.
Kondisi yang sekarang sangatlah berbeda dengan masa lalu. Di masa lalu, tindakan guru menegur murid merupakan bentuk perhatian guru. Tak heran jika guru zaman dulu sangat berwibawa di mata siswa dan masyarakat. Bayangkan saja jika guru sudah menatap siswa dengan tatapan diam, maka siswa pun dengan segera menyadari kesalahannya. Tak ada yang melaporkan ataupun menuduh guru yang telah melakukan  pelanggaran HAM karena sang guru menegur atau memberikan sanksi atau kesalahan siswanya.
Tetapi, apa boleh buat dengan zaman yang sudah berubah. Dulu guru adalah sosok teladan, sosok yang harus dihormati, kini justru sudah menjadi terbalik. Guru di zaman sekarang dianggap sebagai “mesin” akademik saja, bukan sebagai sosok yang mesti diteladani, disayangi, dan dihormati di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Tidak mengherankan, banyak kasus perlakuan murid yang tidak layak kepada guru karena telah membawa akibat runtuhnya molaritas terhadap kamu muda.
Dunia Pendidikan di Indonesia digemparkan dengan berbagai kasus kekerasan siswa terhadap gurunya. Dalam berbagai jenis latar belakang dan kronologis kasus ini, menggambarkan bahwa ada yang slah dalam etika dan molaritas siswa. Kenyataan ini semakin mempertegas tentang pentingnya pendidikan karakter bagi siswa.
Pendidikan tidak hanya terfokus pada penyampaian materi akademiknya saja, tetapi juga mengembangkan etika serta sopan santun tentang bagaimana seharusnya siswa bersikap dan menghormati guru. Mengembalikan kembali perspektif kemuliaan seorang guru adalah langkah nyata yang harus dilakukan semua komponen. Tak hanya tanggung jawab lingkungan sekolah. Tetapi dimulai dari keluarga yang menanamkan nilai agama dan etika, lingkungan, dan media massa pun harus berhati-hati dalam memberikan segala tontonan serta informasi.
Karena baik langsung maupun tidak, membentuk watak seorang siswa yang sedang proses pencarian jati diri. Selain itu, membangun komunikasi baik antar siswa dan guru agar tidak terjadi kesalahpahaman yang  berujung baku hantam. Jangan sampai dunia pendidikan di Indonesia tercoreng dengan ungkapan “guru yang sibuk mengajar, dan siswa yang asyik menghajar.”

2 komentar: