Bab 1
Rini menutup telinga dengan tangannya yang sangat erat.
Matanya terpejam lalu dari sela-sela bulu matanya mengeluarkan air mata. Selalu
begini tiap hari. Apa mereka tidak memikirkannya? Pernahkah mereka
memikirkannya sebentar saja? Pernahkah mereka berpikir bahwa ini akan
menyakitkan? Suara-suara ribut seperti ini bagai mengimpit jiwanya sampai ia
mau mati rasanya.
“CERAIKAN saja aku, ceraikan.”
Plakkk! Terdengar suara perempuan menangis lalu terdengar
suara benda terjatuh.
“kau pikir aku tidak mau, ya sudah
kita cerai saja.”
Itu suara pertengkaran orang tuanya.
Rini hanya lah anak remaja yang berusia empat belas tahun yang semestinya belum
mengerti hal yang seperti ini. Satu-satunya yang dapat ia pelajari dari ayah
dan ibunya hanyalah perselisihan.
“Aaaaaaaaa!!!!” terdengar teriakan
lagi.
Rini mengetatkan lagi telapak
tangannya di telinga, tapi suara-suara itu masih saja terdengar. Itu pasti
suara ibunya, berteriak karena dipukul oleh ayahnya. Mereka bahkan tak pernah
mencoba untuk membuat pertengkaran ini tak lagi di dengarnya.
***
Tok tok tok!
Rini bisa mendengar bunyi ketukan
pintu rumahnya, karena kamarnya yang terletak dengan pintu masuk. Kalau ia
hanya diam saja pasti ayahnya bisa marah. Ia keluar kamar dengan menghapus air
matanya dan membuka pintu.
“Pak RT?” katanya mengenali dilihat
Pak RT datang bersama tetangga sebelahnya.
“Ayahmu ada?” tanya Pak RT melihat
gadis kecil di hadapannya.
Rini bahkan tak bertumbuh besar
seperti remaja belasan tahun pada umumnya. Keluarga Rini sudah dikenal dengan
lingkungannya sebagai keluarga yang tak harmonis. Ayah Rini sering memukuli
anak dan istrinya, dan pertengkaran itu selalu terdengar dari rumah mereka
setiap hari. Tak heran jika pertumbuhan anak mereka terhambat.
“A...da” jawab Rini ragu ragu
“Tapi...”
“Coba tolong panggilkan. Bilang
Pak RT datang begitu.”
Rini mengangguk dan masuk rumah.
Sebenarnya ia malas mengintruksi pertengkaran orang tuanya, karena pernah ia
lakukan sekali tetapi malah terkena sasaran.
Tak lama kemudian Firman keluar
bersama Mira. Wajah Mira yang tampak membiru, tapi ia menutupinya dengan rabut
yang digeraikan.
“Bagaimana ini Pak Firman?
Bertengkar lagi?” kata Pak RT dengan ramah dan santai.
“Cuman ribut-ribut kecil antara
suami-istri, Pak RT. biasa kok.”
“Ya mungkin memang sudah
bias. Tapi kan mengganggu tetangga. Lagi
pula kekerasan dalam rumah tangga ada undang-undangnya loh pak. Bagaimana ini?
Apa perlu saya laporan pada pihak yang berwajib?”
“Tidak sudah Pak RT. Kami
sudah baikan kok.” Jawabnya cepat.
Pak RT bertanya menyelidik
“Benar Bu Mira . . .?”
“I . . .ya, pak.” Jawab
Mira.
“Ya sudah, Pak Firman, Bu
Mira jangan bertengkar terus dong. Malu sama tetangga. Lagian kasihan Rini. Dia
sudah besar.”
Mira memeluk Rini dan
menghirup keharuman rambut anaknya. Mira selalu memeluk anaknya seolah-olah
Rini baru terlahir kemarin sore. Ya, ini bayinya, kesayangannya.
“Kamu sudah besar, Nak.”
Katanya
“Sakit, Ma?” sambil
mengusap luka merah di sudut bibir ibunya.
“Cuma sakit hati.”
Jawabnya pendek lalu air mata mengalir di pipi ibunya.
“Kenapa papah selalu
memukuli mamah terus?”
“Mamah salah pilih
suami.”
“Terus kenapa mamah
menikah dengan papah?”
“Sudah takdir, mamah
tidak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti kenapa rambut kamu hitam, bukan
pirang. Karena itu sudah dari sananya.” Jawab Mira
Rini menggeleng. “Rambut
memang sudah dari sananya, tapi suami tidak.”
“Jangan bawel. Nanti kamu
tahu sendiri kalau sudah besar.” Sambil mengacak-ngacak rambutnya Rini.
Air mata Mira mengalir.
Ia memegang pipi anaknya dengan kedua tangannya lalu menatapnya lama sekali.
Karen Mira hanya ingin mengingat wajah anaknya yang sebentar lagi akan tumbuh
menjadi wanita dewasa. Dan Mira mengasihkan sebuah kalung untuk Rini agar Rini
selalu ingat dengan mamahnya.
***
Rini terbangun karena
bunyi ketukan keras pintu dan terikan tetangga. Dilihatnya jam dinding, sudah
menunjukkan pukul sembilan pagi. Semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan
ibunya.
“Buka!! Pak Firman! Buka!!”
Rini berlari ke depan
pintu dan tak sempat merapikan penampilannya. Ia takut gedoran keras tetangganya
bisa bikin rumahnya roboh. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya ada belasan
orang di depan rumahnya.
“Mamamu, mana Rini?”
tanya seorang yang dikenalnya sebagai Pak Doni.
Rini menggeleng “ Sudah
dua hari Mamah ngga pulang. Saya tidak tahu Mamah pergi kemana.”
“Papahmu, ada?” tanya Pak RT.
“Ada apa sih ribut-ribut?!”
mendengar suara ayahnya, Rini mundur dan membiarkan ayahnya saja yang maju.
“Bu Mira mana, Pak Firman?”
“Mana saya tahu, sudah minggat
kali!” bentak Firman, karena ia kesal karena melihat tetangga yang selalu
mencampuri kehidupannya.
“Pak Firman, kali ini saya
mendapatkan laporan yang serius. Dua malam yang lalu ada yang melihat Bapak
menggotong karung yang cukup besar dan melemparkannya ke sungai. Lalu menurut
laporan Pak Doni, sudah sua hari Bu Mira tidak ada, Jadi...”
“Jadi kalian menuduhku membunuh
istriku sendiri?” seru Firman garang.
“Maaf Pak, jadi Bapak harus kami
serahkan kepada pihak yang berwajib supaya perkara ini bisa jelas.”
“Apa?”
“Jangan bawa Papah!!! Papah!!”
ucap Rini sambil berteriak.
“Tunggu Papah di sini, nanti
Papah pulang!”
Rini menyaksikan tubuh ayahnya
yang dibawa pergi oleh belasan pria itu. Ia bersimpuh lemas di lantai. Benarkah
itu? Benarkah ayahnya telah membunuh ibunya? Tapi memang mencurigakan. Ibunya
mendadak raib begitu saja tanpa jejak. Rini sudah memeriksa pakaiannya, tidak
ada satu pun yang kurang. Bahkan perhiasan emas yang cuman beberapa gram dan di
sayang-sayang pun masih utuh dan lengkap. Batik-batik peninggalan neneknya pun
yang kata ibunya bisa mahal kalau dijual semua masih lengkap. Kalau memang
ibunya kabur dari rumah, tentunya semua barang itu dibawa. Apa benar ayahnya
telah membunuh ibunya? Kalau itu benar...
Rini menangis. Kalau itu benar
bagaimana dengan dirinya....???
Rini membuka pintu, di hadapannya
ada Om Hary yaitu kakak dari ayahnya Rini yang ingin menajak Rini untuk tinggal
bersamanya. Tak banyak barang yang di bawa Rini, cuman beberapa helai baju yang
masih bagus. Ketika Rini melihat kamarnya pandangannya tertuju kepada kalung
mungil yang berada di kotak kaca dan itu merupakan pemberian terakhir dari
ibunya.
Mamah apakah kau sekarang sudah
di Surga? Dendamkah Mamah sama Papah? Rintihnya.
Rini menangis kembali. Ia benci
ayahnya. Bagaimana ia dapat menghadapi pria itu lagi setelah semua kejadian
ini? Sekarang ia harus tinggal bersama orang yang tak terlalu dikenalnya. Tuhan
lindungilah aku, doanya.
“Jangan Khawatir soal
barang-barang kamu. Nanti Om akan menyuruh orang untuk mengepak semuanya dan
membawanya ke rumah Om, biar disimpan di gudang, supa nanti kalau kamu mau
tinggal sendiri sudah punya barang-barang.” Kata Om Hary seolah tahu maksud
dari gadis itu.
“Terima kasih Om.” Kata Rini.
***
Matahari bersinar cerah di langit
biru berwarna putih. Pemandangan indah itu melatarbelakangi rumah cantik bercat
putih dan coklat muda yang terletak di kompleks yang mewah. Mereka masuk ke
dalam rumah, dan Rini melihat gadis berkuncir satu duduk membelakanginya. Gadis
itu sedang bermain piano di ruang tamu.
“Papah kok engga bilang-bilang
sudah pulang, ngagetin saja. Pah dia siapa?” mata anak gadis itu tertuju kepada
Rini.
“Oh ya, Papah lupa mengenalkan
kalian, Ini Rini yang akan tinggal bersama kita.” Kata Om Hary.
Reny teridam. Namun Reny tak
menunjukkan wajah gembira atau tidak suka mendengar keputusan ayahnya.
“Bentar aku panggilkan dulu Mamah ya Pah.”
Kata Reny.
Hary mengangguk dan
menyuruh Rini duduk di sofa. Reny masuk
ke ruang tengah sambil memanggil-manggil Mamahnya. Tak lama kemudian ia kembali
dengan wanita yang sangat cantik, dengan pakaian masa kini dan tatanan rambut
terbaru. Dan juga seorang pemuda yang usianya kira-kira lebih tua dari Reny.
“Ada apa, Pa. Reny teriak
memanggilku seperti kebakaran jenggot saja, ada apa?” seru wanita cantik itu
terburu-buru menghampiri Hary.
“Mah aku hanya ingin
mengenalkan saja dia Rini keponakan aku yang akan tinggal di sini bersama kita
dalam beberapa waktu. Rini kenalkan ini Tante Siska dan ini Rizky kakaknya
Reny.” Kata Om Hary sambil mengenalkan anggota keluarganya.
“Rini kamu tinggal di
kamar Reny saja ya.” Ujar Hary.
“Ya.... Papah.” Protes Reny.
“Reny kamu mulai
membantah, ya?” ucap Hary.
Siska menyela “Biarkan
Rini tinggal di kamar belakang saja, aku rapikan terlebih dahulu.”
“Tapi itu kan bekas kamar
pembantu mah. Asyik ada pembantu baru.” Ucap Rizky.
“Rizky, Rini ini bukan
pembantu, dia adalah sepupu kamu.” Ucap Hary dengan tegas.
“Rini kamu ikut tante ya.
Karena sementara ini tidak ada pembantu jadi kamu harus mencuci baju sendiri,
bisa kan Rini?” ucap Hary dengan ramah.
Mereka pergi ke sebuah kamar
yang berukuran 2 X 3 meter yang letaknya dekat dengan dapur. Rini tahu ini
bekas kamar pembantu, berdasarkan percakapan tadi. Tapi ia sudah bersyukur
mendapatkan tempat tinggal. Lagi pula di rumah yang dulu tidak jauh berbeda
dengan yang ini. Setelah dirapikan, sekarang kamar ini berisi tempat tidur
pendek untuk satu orang, rak rotan, sebuah meja dan kursi. Menurut Rini
sekarang kamar ini cukup lumayan.