PROMISE

Di
suatu pagi ada seorang anak yang bernama Aurin dengan kondisi keluarga yang
hanya bisa mencukupi kebutuhannya dalam sehari-hari. Ayahnya yang hanya seorang
nelayan yang terkadang jika nasibnya bagus dia akan mendapatkan uang dengan
jumlah yang besar dan juga sebaliknya jika ia sedang tidak beruntung maka ia
hanya akan mendapat uang dengan pas hanya memenuhi kebutuhan. Ibunya yang sudah
meninggal membuat Aurin semakin dewasa, Aurin adalah anak satu-satunya yang
sekarang sudah berusia 15 tahun.
Aurin
berangkat ke sekolah dengan berpamitan kepada ayahnya, sambil meminta restu
agar menjadi anak yang pintar dan membanggakan ayahnya. Sebelum Aurin ke
sekolah Aurin akan berangkat bersama dengan sahabatnya yaitu Aurel, Aurel
adalah orang yang tidak suka membeda-bedakan antara orang kaya dengan orang
yang berkecukupan rendah (miskin). Tetapi ibu Aurel yang bernama Rosa itu
sangat sombong dengan kekayaan yang dimilikinya sekarang, dia tidak ingin anak-anaknya
bergaul dengan anak yang hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Saat Aurin
sampai di rumah Aurel Aurin hanya di perbolehkan duduk di luar saja. Aurel
segera bersiap-siap dan menunggu adiknya yang keluar dari kamar.
“Dek
ayo kita berangkat sekolah” kata Aurel sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya
kak, sebentar lagi” kata Adiba adiknya Aurel yang sedang memakai tas ke
punggungnya.
Saat
semuanya sudah siap mereka diantar keluar rumah dengan mamahnya dan saat akan
berpamitan Aurin di tatap oleh mamahnya Aurel atau Adiba dengan sangat sinis.
Tetapi Aurin membalasnya hanya dengan senyuman yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum
mamah, tante” sambil berbarengan untuk berangkat sekolah.
“wa’alaikumsalam”
kata mamahnya Aurel dan Adiba.
Saat
di perjalanan mereka mengobrolkan tentang
sekolah dan saling bercerita satu sama lain.
“Maafkan
mamahku tadi ya, aku rasa tadi mamahku terlalu egois kepadamu” kata Aurel
sambil bertatapan.
“Memang
ada masalah apa sampai kamu meminta maaf kepadaku atas kelakuan mamah kamu? Kan
mamah kamu tidak melakukan yang membuatnya bersalah kepada aku? Lagian aku
tidak kenapa-napa kok, malah aku anggap itu adalah hal yang tidak penting”
dengan senyuman Aurin yang sangat ramah.
“Terima
kasih ya kamu memang adalah sahabat terbaik yang pernah aku temui” sambil Aurel
berpelukan kepada Aurin.
Saat
sudah sampai sekolah Adiba berpamitan kepada kakaknya karena dia hanya berbeda
3 tahun umurnya dan sekolahnya pun tidak jauh berbeda beberapa meter. Saat
istirahat mereka tetap berdua bagaikan lem dan kertas jika sudah menyatu yang
tidak dapat dipisahkan. Mereka saling mengejar prestasi untuk mendapatkan nilai
yang bagus pada penilaian akhir semester. Saat bel sekolah berbunyi yang
menandakan pulang mereka berdua pun pulang. Saat di depan pagar sekolah Aurel
sudah di jemput oleh mamahnya yang telah menjemput terlebih dahulu adiknya
yaitu Adiba. Dan Aurin pun sudah di jemput oleh ayahnya yang menggunakan motor
bebek.
“Assalamu’alaikum Paman” kata Aurel sambil cium tangan kepada ayahnya Aurin
“Wa’alaikumsalam,
ini Aurel ya?” kata ayahnya Aurin dengan berbicara lembut.
“Iya
om, om lupa ya ” Aurel berbicara belum usai tetapi ia sudah di panggil oleh
mamahnya
“Aurel
ayo kita pulang, lagian kamu ngapain sih berteman dengan anak nelayan itu yang
gak level dengan kita” Aurel segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
Saat
di dalam mobil Aurel berbicara kepada mamahnya “Mah kenapa sih mamah tuh selalu
membedakan orang karena hartanya? Mah harta itu hanya ada di dunia saja, karena
semua manusia di mata tuhan itu sama derajatnya”
“Mamah
tidak mau kamu bergaul dengan mereka karena bukannya seusia kamu itu belajar
tapi melainkan malah di suruh bekerja” dengan nada kesal.
“Ya
kan mah” kata Aurel dengan memelas dan ucapan pun belum selesai.
“Sudahlah
sudah kamu itu selalu mengelak saja jika diberitahu yang benar” kata mamahnya
dengan kata yang sinis.
Adik
Aurel pun hanya bisa terdiam saja karena jika Adiba ikut campur pasti Adiba
yang akan dimarahinya karena Adiba masih kecil yang belum tahu tentang keadaan
sekitar yang selalu ramai dengan perselisihan dan membuatnya heran. Saat sampai
rumah Adiba dan Aurel bersih-bersih dan melaksanakan kewajibannya. Saat Aurel
berkunjung ke dalam kamar Adiba, Adiba sedang mengerjakan tugas walaupun besok
adalah hari libur. Aurel mempunyai niatan untuk bermain dengan Aurin dan
mengajak Adiba, karena Aurel masih terkadang takut saat di jalan.
“Dek
besok kita main yuk” kata kak Aurel
“Mau
main kemana kak? Lagian besok aku tidak ada kerjaan apa-apa dan aku juga suntuk
di rumah terus” dengan nada bahagianya Adiba
“Ada
deh, pokoknya kamu bersiap-siap saja ya” dengan hati senang karena Aurel akan
bertemu dengan Aurin.
Saat
hari esok, saat semuanya sudah siap ternyata Adiba akan diajak mamahnya untuk
pergi ke rumah neneknya bersama dengan mamahnya. Dan akhirnya pun Aurel pergi
sendiri ke rumah Aurin dan Aurel meminta kepada Diba agar tidak beritahu
mamahnya bahwa ia akan pergi bermain ke rumahnya Aurin si anak pelayan itu.
Saat
tiba di rumah Aurin, Aurel bertemu dengan ayahnya Aurin yang baru saja pulang
dari laut.
“Hai
paman” sambil menyambut dengan senang.
“Hai
Aurel apa kabar?” sambil bersalaman
“Baik
paman, paman sedang membuat apa?” kata Aurel
“Paman
sedang membuat sop ikan, tadi paman membawa ikan karena Aurin bilang kalau kamu
akan ke sini” dan paman pun langsung meninggalkan Aurin dan Aurel yang sedang
asyik mengobrol.
Saat
Adiba dan mamahnya sampai di rumah nenek dan saling kangen-kangenan. Mamah
bertanya kepada Adiba kalau kak Aurin itu pergi kemana? Dan Adiba pun bilang
bahwa ia tidak tahu. Tapi Adiba di hantui rasa takut karena ia selama ini tidak
pernah di ajarkan untuk berbohong. Adiba pun pasrah dan dia bilang bahwa kak
Aurel sedang pergi ke rumah kak Aurin.
“Aurel,
Aurel keluar kamu” dengan nada suara yang kencang
“Iya
mah sebentar” dengan berkata gagu dan ketakutan.
Sambil
diantarkan keluar oleh Aurin dan ayahnya, aurel berdiri ketakutan
“Ayo
kamu pulang, ngapain kamu di sini di rumah yang kumuh kaya gini, ayo cepat
pulang !” kata mamah Aurel
“Tante,
sebenarnya aku punya salah apa sih sama tante, kenapa tante selalu menjelekkan
keluarga saya, padahal saya tidak punya salah sedikit pun kepada tante” dengan
wajah kesal dan bertetesan keluar air mata.
“Karena
gara-gara kamu anak tante jadi seperti ini”
“Seperti
ini bagaimana tante? Saya tidak pernah mengajak Aurel untuk hal-hal yang tidak
sewajarnya, apa karena keluarga aku yang miskin ini yang membuat tante tidak
suka dengan saya? Saya akan buktikan kepada tante bahwa anak yang hanya seorang
nelayan bisa sukses untuuk mengejar mimpinya.”
“Sudahlah
, ayo Aurel kamu pulang mamah tunggu kamu di mobil.” Sambil menyetir mobil,
mamahnya Aurel dan Aurin selalu berpikiran bahwa anaknya tidak ingin bernasib
seperti Aurin.
Keesokan
harinya saat bertemu Aurin di sekolah Aurel berminta maaf karena kelakuan
mamahnya yang tidak mengenakan hati Aurin dan ayahnya. Hari ke hari Aurel tetap
berteman dengan Aurin, walaupun mamahnya tidak menginzinkan untuk berteman
tetapi ia malah semakin akrab.
“Dek
jangan bilang-bilang ke mamah ya, kalau kakak akan pergi ke rumah kak Aurin
lagi” dengan memelas meminta tolong
“Iya
kak, Insya Allah” dengan senyuman. Kakak akan pergi diam-diam, dan mamah sedang
pergi ke pasar. Dan saat Aurel pergi mamah pun datang.
“Adiba,
kak Aurel kemana kok mamah tidak melihatnya dari pagi” dengan wajah yang heran.
“Ada
kok mah di kamarnya” kata Adiba. Saat melihat ke kamarnya ternyata Aurel tidak
ada di sana.
“Adiba
jangan bohong kamu ke mamah, kak Aurel tidak ada di kamarnya” dengan marahnya.
Mamahnya berpikir bahwa dia sedang pergi ke rumah temannya yang rumahnya kumuh
itu.
“Mah”
dengan muka Adiba memelas.
“Kamu
pasti bohong ya, kak Aurel sedang pergi ke rumah temannya itu kan?”
“Mah
apa salahnya sih kak Aurel berteman dengan temannya yang itu, lagian Kak Aurin
pintar mah, cuman saja ekonomi mereka dengan kita yang berbeda, dan itu pun
tidak akan menjadi penghalang bagi kak Aurel dan kak Aurin untuk saling
memotivasi dalam belajar.” Kata Adiba yang sangat menyentuh hati
“Alah
sudahlah kamu itu masih kecil dan kamu itu tidak tau apa-apa.” Dan mamahnya pun
langsung menjemput Aurel
“Aurel
dimana kamu, ayo pulang, mamah sudah bilang berapa kali kepada kamu, tapi kamu
selalu mengelak saja” sambil terus mengetuk pintu rumah Aurin.
“Tante
maaf kan aku ya, aku tidak ada maksud apa-apa, Aurel sudah mendingan kamu
pulang saja bersama mamah kamu, Aurel aku akan berjanji suatu saat kita
akan bertemu lagi di lain waktu lagian
aku akan pindah sekolah dan akan menetap di Bandung. Tante dan aku berjanji
bahwa aku akan sukses untuk meraih mimpi-mimpi aku.” Sambil berpelukan kepada
Aurel.
“Ya
baguslah kalau begitu jadi saya tidak perlu cape untuk memarahi Aurel setiap
hari” sambil pergi dan masuk ke dalam mobil.
“Dah
Aurel sampai bertemu di lain waktu.” Sambil menangis tersendu-sendu.
Hari
demi hari, waktu demi waktu terus
berjalan Aurel semakin dewasa dan dia sekarang sudah masuk ke bangku
kuliah. Sedangkan di lain tempat Aurin sudah lulus dan bekerja sambil
meneruskan kuliahnya. Aurin berencana untuk main ke rumah Aurel sambil
silaturahmi kepada tante Rosa. Adiba pun sekarang sudah duduk di bangku SMA.
Aurel sekarang sudah sukses dia sudah punya mobil pribadi dan ayahnya sudah
tidak bekerja lagi karena dari penghasilan Aurin sudah bisa mencukupi untuk
kebutuhan hidupnya. Dalam hati Aurin, Aurin bangga karena dia sudah bisa
membuktikan sebuah janji yang dulu ia jadikan motivasi untuk meraih mimpinya.
Saat
sore setelah pulang kuliah, Aurin mencoba untuk menghubungi ponsel Aurel yang
sekarang masih aktif atau sudah hangus. Dan setelah mencoba akhirnya aktif dan
Aurin bilang sangat kangen sekali dengan Aurel dan Aurin bilang dia akan
berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan mamah dan adiknya Aurel.
“Mah
Aurin nanti akan datang ke sini untuk bertemu dengan mamah dan Adiba. Dia
sekarang sepertinya sudah sukses mah” dengan sangat gembira untuk memberitahu
hal ini.
“Mamah
gak percaya, ngapain sih dia ke sini dia mau menyusahkan mamah lagi?” dengan
nada tinggi.
“Mah
tadi dia bilang ternyata dia sudah sukses mah dia sudah bisa membiayai
kuliahnya sendiri dan dia sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari ayahnya.”
“Apakah mamah tidak merasa bersalah karena mamah telah menuduh Aurin yang
tidak-tidak pada saat itu, coba mamah pikirkan lagi” sambil terenyuh Aurel
berbicara.
“Mamah
merasa bersalah apa yang telah mamah perbuat beberapa tahun ke belakang, mamah
sepertinya telah di butakan oleh harta.” Mamah Aurel sambil menyesal apa yang
telah ia perbuat saat itu.
“Akhirnya
mamah menyadari juga apa yang telah mamah perbuat” sambil berpelukan.
Di
hari Sabtu ini, Aurin dan ayahnya akan berkunjung ke rumah Aurel, dan mamah Aurel pun sudah
mempersiapkan makanan dan yang lainnya untuk menyambut Aurin dan ayahnya.
“Assalamu’alaikum”
ucap Aurin dan Ayahnya secara bersamaan.
“wa’alaikumsalam”
Aurel dan mamahnya sambil membukakan pintu.
“Apa
kabar tante, tante aku akan membuktikan janji kepada tante bahwa sekarang aku
sudah sukses dan ayahku kini tak usah lagi bekerja karena aku sudah bisa untuk
memenuhi kehidupan sehari-harinya.” Sambil tersenyum.
“Kabar
baik, Aurin dan Ayahnya Aurin saya minta maaf karena saat itu saya seolah-olah
dibutakan oleh harta yang saya miliki. Saya benar-benar merasa bersalah, ayo
silakan kita masuk karena saya sudah siapkan makan untuk kita semua.” Sambil
menyuruhnya masuk
“Iya
tante sebelum tante minta maaf, aku dan ayah pun sudah memaafkan tante, tapi
tante aku mau bicara satu hal lagi, pada saat tante berbicara seperti itu, jadi
aku termotivasi untuk bekerja keras, belajar lebih giat lagi untuk meraih mimpi
aku, dan sekarang mimpi aku sudah terwujud tante.” Sambil berpelukan dengan
tante.
“Ah
kamu bisa saja” sambil mengeluarkan air mata.
Dan
kini Aurin sudah tidak ada penghalang lagi untuk bermain dengan Aurel, tante Rosa
pun atau mamahnya Aurel dan Adiba sudah menyadari apa yang telah ia perbuat.
Dan setelah Adiba datang pulang sekolah mereka semua makan sore bersama dengan
lauk pauk makanan kesukaan mereka semua, makan mereka terasa nikmat karena bisa
berkumpul bersama. Senyumnya Aurin kini menjadi senyum kebahagiaan karena semua
masalah yang saat itu sudah sirna.
Amanatnya bagus
BalasHapusTerus berkarya..
BalasHapus