Rabu, 27 Februari 2019

Cerpen


PROMISE
 

Di suatu pagi ada seorang anak yang bernama Aurin dengan kondisi keluarga yang hanya bisa mencukupi kebutuhannya dalam sehari-hari. Ayahnya yang hanya seorang nelayan yang terkadang jika nasibnya bagus dia akan mendapatkan uang dengan jumlah yang besar dan juga sebaliknya jika ia sedang tidak beruntung maka ia hanya akan mendapat uang dengan pas hanya memenuhi kebutuhan. Ibunya yang sudah meninggal membuat Aurin semakin dewasa, Aurin adalah anak satu-satunya yang sekarang sudah berusia 15 tahun.
Aurin berangkat ke sekolah dengan berpamitan kepada ayahnya, sambil meminta restu agar menjadi anak yang pintar dan membanggakan ayahnya. Sebelum Aurin ke sekolah Aurin akan berangkat bersama dengan sahabatnya yaitu Aurel, Aurel adalah orang yang tidak suka membeda-bedakan antara orang kaya dengan orang yang berkecukupan rendah (miskin). Tetapi ibu Aurel yang bernama Rosa itu sangat sombong dengan kekayaan yang dimilikinya sekarang, dia tidak ingin anak-anaknya bergaul dengan anak yang hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Saat Aurin sampai di rumah Aurel Aurin hanya di perbolehkan duduk di luar saja. Aurel segera bersiap-siap dan menunggu adiknya yang keluar dari kamar.
“Dek ayo kita berangkat sekolah” kata Aurel sambil mengetuk pintu kamar.
“Iya kak, sebentar lagi” kata Adiba adiknya Aurel yang sedang memakai tas ke punggungnya.
Saat semuanya sudah siap mereka diantar keluar rumah dengan mamahnya dan saat akan berpamitan Aurin di tatap oleh mamahnya Aurel atau Adiba dengan sangat sinis. Tetapi Aurin membalasnya hanya dengan senyuman yang sangat lembut.
“Assalamu’alaikum mamah, tante” sambil berbarengan untuk berangkat sekolah.
“wa’alaikumsalam” kata mamahnya Aurel dan Adiba.
Saat di perjalanan mereka mengobrolkan tentang  sekolah dan saling bercerita satu sama lain.
“Maafkan mamahku tadi ya, aku rasa tadi mamahku terlalu egois kepadamu” kata Aurel sambil bertatapan.
“Memang ada masalah apa sampai kamu meminta maaf kepadaku atas kelakuan mamah kamu? Kan mamah kamu tidak melakukan yang membuatnya bersalah kepada aku? Lagian aku tidak kenapa-napa kok, malah aku anggap itu adalah hal yang tidak penting” dengan senyuman Aurin yang sangat ramah.
“Terima kasih ya kamu memang adalah sahabat terbaik yang pernah aku temui” sambil Aurel berpelukan kepada Aurin.
Saat sudah sampai sekolah Adiba berpamitan kepada kakaknya karena dia hanya berbeda 3 tahun umurnya dan sekolahnya pun tidak jauh berbeda beberapa meter. Saat istirahat mereka tetap berdua bagaikan lem dan kertas jika sudah menyatu yang tidak dapat dipisahkan. Mereka saling mengejar prestasi untuk mendapatkan nilai yang bagus pada penilaian akhir semester. Saat bel sekolah berbunyi yang menandakan pulang mereka berdua pun pulang. Saat di depan pagar sekolah Aurel sudah di jemput oleh mamahnya yang telah menjemput terlebih dahulu adiknya yaitu Adiba. Dan Aurin pun sudah di jemput oleh ayahnya yang menggunakan motor bebek.
“Assalamu’alaikum Paman” kata Aurel sambil cium tangan kepada ayahnya Aurin
“Wa’alaikumsalam, ini Aurel ya?” kata ayahnya Aurin dengan berbicara lembut.
“Iya om, om lupa ya ” Aurel berbicara belum usai tetapi ia sudah di panggil oleh mamahnya
“Aurel ayo kita pulang, lagian kamu ngapain sih berteman dengan anak nelayan itu yang gak level dengan kita” Aurel segera berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
Saat di dalam mobil Aurel berbicara kepada mamahnya “Mah kenapa sih mamah tuh selalu membedakan orang karena hartanya? Mah harta itu hanya ada di dunia saja, karena semua manusia di mata tuhan itu sama derajatnya”
“Mamah tidak mau kamu bergaul dengan mereka karena bukannya seusia kamu itu belajar tapi melainkan malah di suruh bekerja” dengan nada kesal.
“Ya kan mah” kata Aurel dengan memelas dan ucapan pun belum selesai.
“Sudahlah sudah kamu itu selalu mengelak saja jika diberitahu yang benar” kata mamahnya dengan kata yang sinis.
Adik Aurel pun hanya bisa terdiam saja karena jika Adiba ikut campur pasti Adiba yang akan dimarahinya karena Adiba masih kecil yang belum tahu tentang keadaan sekitar yang selalu ramai dengan perselisihan dan membuatnya heran. Saat sampai rumah Adiba dan Aurel bersih-bersih dan melaksanakan kewajibannya. Saat Aurel berkunjung ke dalam kamar Adiba, Adiba sedang mengerjakan tugas walaupun besok adalah hari libur. Aurel mempunyai niatan untuk bermain dengan Aurin dan mengajak Adiba, karena Aurel masih terkadang takut saat di jalan.
“Dek besok kita main yuk” kata kak Aurel
“Mau main kemana kak? Lagian besok aku tidak ada kerjaan apa-apa dan aku juga suntuk di rumah terus” dengan nada bahagianya Adiba
“Ada deh, pokoknya kamu bersiap-siap saja ya” dengan hati senang karena Aurel akan bertemu dengan Aurin.
Saat hari esok, saat semuanya sudah siap ternyata Adiba akan diajak mamahnya untuk pergi ke rumah neneknya bersama dengan mamahnya. Dan akhirnya pun Aurel pergi sendiri ke rumah Aurin dan Aurel meminta kepada Diba agar tidak beritahu mamahnya bahwa ia akan pergi bermain ke rumahnya Aurin si anak pelayan itu.
Saat tiba di rumah Aurin, Aurel bertemu dengan ayahnya Aurin yang baru saja pulang dari laut.
“Hai paman” sambil menyambut dengan senang.
“Hai Aurel apa kabar?” sambil bersalaman
“Baik paman, paman sedang membuat apa?” kata Aurel
“Paman sedang membuat sop ikan, tadi paman membawa ikan karena Aurin bilang kalau kamu akan ke sini” dan paman pun langsung meninggalkan Aurin dan Aurel yang sedang asyik mengobrol.
Saat Adiba dan mamahnya sampai di rumah nenek dan saling kangen-kangenan. Mamah bertanya kepada Adiba kalau kak Aurin itu pergi kemana? Dan Adiba pun bilang bahwa ia tidak tahu. Tapi Adiba di hantui rasa takut karena ia selama ini tidak pernah di ajarkan untuk berbohong. Adiba pun pasrah dan dia bilang bahwa kak Aurel sedang pergi ke rumah kak Aurin. 
“Aurel, Aurel keluar kamu” dengan nada suara yang kencang
“Iya mah sebentar” dengan berkata gagu dan ketakutan.
Sambil diantarkan keluar oleh Aurin dan ayahnya, aurel berdiri ketakutan
“Ayo kamu pulang, ngapain kamu di sini di rumah yang kumuh kaya gini, ayo cepat pulang !” kata mamah Aurel
“Tante, sebenarnya aku punya salah apa sih sama tante, kenapa tante selalu menjelekkan keluarga saya, padahal saya tidak punya salah sedikit pun kepada tante” dengan wajah kesal dan bertetesan keluar air mata.
“Karena gara-gara kamu anak tante jadi seperti ini”
“Seperti ini bagaimana tante? Saya tidak pernah mengajak Aurel untuk hal-hal yang tidak sewajarnya, apa karena keluarga aku yang miskin ini yang membuat tante tidak suka dengan saya? Saya akan buktikan kepada tante bahwa anak yang hanya seorang nelayan bisa sukses untuuk mengejar mimpinya.”
“Sudahlah , ayo Aurel kamu pulang mamah tunggu kamu di mobil.” Sambil menyetir mobil, mamahnya Aurel dan Aurin selalu berpikiran bahwa anaknya tidak ingin bernasib seperti Aurin.
Keesokan harinya saat bertemu Aurin di sekolah Aurel berminta maaf karena kelakuan mamahnya yang tidak mengenakan hati Aurin dan ayahnya. Hari ke hari Aurel tetap berteman dengan Aurin, walaupun mamahnya tidak menginzinkan untuk berteman tetapi ia malah semakin akrab.
“Dek jangan bilang-bilang ke mamah ya, kalau kakak akan pergi ke rumah kak Aurin lagi” dengan memelas meminta tolong
“Iya kak, Insya Allah” dengan senyuman. Kakak akan pergi diam-diam, dan mamah sedang pergi ke pasar. Dan saat Aurel pergi mamah pun datang.
“Adiba, kak Aurel kemana kok mamah tidak melihatnya dari pagi” dengan wajah yang heran.
“Ada kok mah di kamarnya” kata Adiba. Saat melihat ke kamarnya ternyata Aurel tidak ada di sana.
“Adiba jangan bohong kamu ke mamah, kak Aurel tidak ada di kamarnya” dengan marahnya. Mamahnya berpikir bahwa dia sedang pergi ke rumah temannya yang rumahnya kumuh itu.
“Mah” dengan muka Adiba memelas.
“Kamu pasti bohong ya, kak Aurel sedang pergi ke rumah temannya itu kan?”
“Mah apa salahnya sih kak Aurel berteman dengan temannya yang itu, lagian Kak Aurin pintar mah, cuman saja ekonomi mereka dengan kita yang berbeda, dan itu pun tidak akan menjadi penghalang bagi kak Aurel dan kak Aurin untuk saling memotivasi dalam belajar.” Kata Adiba yang sangat menyentuh hati
“Alah sudahlah kamu itu masih kecil dan kamu itu tidak tau apa-apa.” Dan mamahnya pun langsung menjemput Aurel
“Aurel dimana kamu, ayo pulang, mamah sudah bilang berapa kali kepada kamu, tapi kamu selalu mengelak saja” sambil terus mengetuk pintu rumah Aurin.
“Tante maaf kan aku ya, aku tidak ada maksud apa-apa, Aurel sudah mendingan kamu pulang saja bersama mamah kamu, Aurel aku akan berjanji suatu saat kita akan  bertemu lagi di lain waktu lagian aku akan pindah sekolah dan akan menetap di Bandung. Tante dan aku berjanji bahwa aku akan sukses untuk meraih mimpi-mimpi aku.” Sambil berpelukan kepada Aurel.
“Ya baguslah kalau begitu jadi saya tidak perlu cape untuk memarahi Aurel setiap hari” sambil pergi dan masuk ke dalam mobil.
“Dah Aurel sampai bertemu di lain waktu.” Sambil menangis tersendu-sendu.
Hari demi hari, waktu demi waktu terus  berjalan Aurel semakin dewasa dan dia sekarang sudah masuk ke bangku kuliah. Sedangkan di lain tempat Aurin sudah lulus dan bekerja sambil meneruskan kuliahnya. Aurin berencana untuk main ke rumah Aurel sambil silaturahmi kepada tante Rosa. Adiba pun sekarang sudah duduk di bangku SMA. Aurel sekarang sudah sukses dia sudah punya mobil pribadi dan ayahnya sudah tidak bekerja lagi karena dari penghasilan Aurin sudah bisa mencukupi untuk kebutuhan hidupnya. Dalam hati Aurin, Aurin bangga karena dia sudah bisa membuktikan sebuah janji yang dulu ia jadikan motivasi untuk meraih mimpinya.
Saat sore setelah pulang kuliah, Aurin mencoba untuk menghubungi ponsel Aurel yang sekarang masih aktif atau sudah hangus. Dan setelah mencoba akhirnya aktif dan Aurin bilang sangat kangen sekali dengan Aurel dan Aurin bilang dia akan berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan mamah dan adiknya Aurel.
“Mah Aurin nanti akan datang ke sini untuk bertemu dengan mamah dan Adiba. Dia sekarang sepertinya sudah sukses mah” dengan sangat gembira untuk memberitahu hal ini.
“Mamah gak percaya, ngapain sih dia ke sini dia mau menyusahkan mamah lagi?” dengan nada tinggi.
“Mah tadi dia bilang ternyata dia sudah sukses mah dia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri dan dia sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari ayahnya.” “Apakah mamah tidak merasa bersalah karena mamah telah menuduh Aurin yang tidak-tidak pada saat itu, coba mamah pikirkan lagi” sambil terenyuh Aurel berbicara.
“Mamah merasa bersalah apa yang telah mamah perbuat beberapa tahun ke belakang, mamah sepertinya telah di butakan oleh harta.” Mamah Aurel sambil menyesal apa yang telah ia perbuat saat itu.
“Akhirnya mamah menyadari juga apa yang telah mamah perbuat” sambil berpelukan.
Di hari Sabtu ini, Aurin dan ayahnya akan berkunjung  ke rumah Aurel, dan mamah Aurel pun sudah mempersiapkan makanan dan yang lainnya untuk menyambut Aurin dan ayahnya.
“Assalamu’alaikum” ucap Aurin dan Ayahnya secara bersamaan.
“wa’alaikumsalam” Aurel dan mamahnya sambil membukakan pintu.
“Apa kabar tante, tante aku akan membuktikan janji kepada tante bahwa sekarang aku sudah sukses dan ayahku kini tak usah lagi bekerja karena aku sudah bisa untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.” Sambil tersenyum.
“Kabar baik, Aurin dan Ayahnya Aurin saya minta maaf karena saat itu saya seolah-olah dibutakan oleh harta yang saya miliki. Saya benar-benar merasa bersalah, ayo silakan kita masuk karena saya sudah siapkan makan untuk kita semua.” Sambil menyuruhnya masuk
“Iya tante sebelum tante minta maaf, aku dan ayah pun sudah memaafkan tante, tapi tante aku mau bicara satu hal lagi, pada saat tante berbicara seperti itu, jadi aku termotivasi untuk bekerja keras, belajar lebih giat lagi untuk meraih mimpi aku, dan sekarang mimpi aku sudah terwujud tante.” Sambil berpelukan dengan tante.
“Ah kamu bisa saja” sambil mengeluarkan air mata.
Dan kini Aurin sudah tidak ada penghalang lagi untuk bermain dengan Aurel, tante Rosa pun atau mamahnya Aurel dan Adiba sudah menyadari apa yang telah ia perbuat. Dan setelah Adiba datang pulang sekolah mereka semua makan sore bersama dengan lauk pauk makanan kesukaan mereka semua, makan mereka terasa nikmat karena bisa berkumpul bersama. Senyumnya Aurin kini menjadi senyum kebahagiaan karena semua masalah yang saat itu sudah sirna.

2 komentar: