Sabtu, 02 Maret 2019

Novel


Bab 1


Rini menutup telinga dengan tangannya yang sangat erat. Matanya terpejam lalu dari sela-sela bulu matanya mengeluarkan air mata. Selalu begini tiap hari. Apa mereka tidak memikirkannya? Pernahkah mereka memikirkannya sebentar saja? Pernahkah mereka berpikir bahwa ini akan menyakitkan? Suara-suara ribut seperti ini bagai mengimpit jiwanya sampai ia mau mati rasanya.
“CERAIKAN saja aku, ceraikan.”
Plakkk! Terdengar suara perempuan menangis lalu terdengar suara benda terjatuh.
“kau pikir aku tidak mau, ya sudah kita cerai saja.”       
Itu suara pertengkaran orang tuanya. Rini hanya lah anak remaja yang berusia empat belas tahun yang semestinya belum mengerti hal yang seperti ini. Satu-satunya yang dapat ia pelajari dari ayah dan ibunya hanyalah perselisihan.
“Aaaaaaaaa!!!!” terdengar teriakan lagi.
Rini mengetatkan lagi telapak tangannya di telinga, tapi suara-suara itu masih saja terdengar. Itu pasti suara ibunya, berteriak karena dipukul oleh ayahnya. Mereka bahkan tak pernah mencoba untuk membuat pertengkaran ini tak lagi di dengarnya.
***
Tok tok tok!                
Rini bisa mendengar bunyi ketukan pintu rumahnya, karena kamarnya yang terletak dengan pintu masuk. Kalau ia hanya diam saja pasti ayahnya bisa marah. Ia keluar kamar dengan menghapus air matanya dan membuka pintu.
“Pak RT?” katanya mengenali dilihat Pak RT datang bersama tetangga sebelahnya.
“Ayahmu ada?” tanya Pak RT melihat gadis kecil di hadapannya.
Rini bahkan tak bertumbuh besar seperti remaja belasan tahun pada umumnya. Keluarga Rini sudah dikenal dengan lingkungannya sebagai keluarga yang tak harmonis. Ayah Rini sering memukuli anak dan istrinya, dan pertengkaran itu selalu terdengar dari rumah mereka setiap hari. Tak heran jika pertumbuhan anak mereka terhambat.
“A...da” jawab Rini ragu ragu “Tapi...”
“Coba tolong panggilkan. Bilang Pak RT datang begitu.”
Rini mengangguk dan masuk rumah. Sebenarnya ia malas mengintruksi pertengkaran orang tuanya, karena pernah ia lakukan sekali tetapi malah terkena sasaran.
Tak lama kemudian Firman keluar bersama Mira. Wajah Mira yang tampak membiru, tapi ia menutupinya dengan rabut yang digeraikan.
“Bagaimana ini Pak Firman? Bertengkar lagi?” kata Pak RT dengan ramah dan santai.
“Cuman ribut-ribut kecil antara suami-istri, Pak RT. biasa kok.”
“Ya mungkin memang sudah bias. Tapi kan mengganggu  tetangga. Lagi pula kekerasan dalam rumah tangga ada undang-undangnya loh pak. Bagaimana ini? Apa perlu saya laporan pada pihak yang berwajib?”
“Tidak sudah Pak RT. Kami sudah baikan kok.” Jawabnya cepat.
Pak RT bertanya menyelidik “Benar Bu Mira . . .?”
“I . . .ya, pak.” Jawab Mira.
“Ya sudah, Pak Firman, Bu Mira jangan bertengkar terus dong. Malu sama tetangga. Lagian kasihan Rini. Dia sudah besar.”
Mira memeluk Rini dan menghirup keharuman rambut anaknya. Mira selalu memeluk anaknya seolah-olah Rini baru terlahir kemarin sore. Ya, ini bayinya, kesayangannya.
“Kamu sudah besar, Nak.” Katanya
“Sakit, Ma?” sambil mengusap luka merah di sudut bibir ibunya.
“Cuma sakit hati.” Jawabnya pendek lalu air mata mengalir di pipi ibunya.
“Kenapa papah selalu memukuli mamah terus?”
“Mamah salah pilih suami.”
“Terus kenapa mamah menikah dengan papah?”
“Sudah takdir, mamah tidak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti kenapa rambut kamu hitam, bukan pirang. Karena itu sudah dari sananya.” Jawab Mira
Rini menggeleng. “Rambut memang sudah dari sananya, tapi suami tidak.”
“Jangan bawel. Nanti kamu tahu sendiri kalau sudah besar.” Sambil mengacak-ngacak rambutnya Rini.
Air mata Mira mengalir. Ia memegang pipi anaknya dengan kedua tangannya lalu menatapnya lama sekali. Karen Mira hanya ingin mengingat wajah anaknya yang sebentar lagi akan tumbuh menjadi wanita dewasa. Dan Mira mengasihkan sebuah kalung untuk Rini agar Rini selalu ingat dengan mamahnya.
***
Rini terbangun karena bunyi ketukan keras pintu dan terikan tetangga. Dilihatnya jam dinding, sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Semalam ia tak bisa tidur karena memikirkan ibunya.
“Buka!! Pak Firman! Buka!!”
Rini berlari ke depan pintu dan tak sempat merapikan penampilannya. Ia takut gedoran keras tetangganya bisa bikin rumahnya roboh. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya ada belasan orang di depan rumahnya.
“Mamamu, mana Rini?” tanya seorang yang dikenalnya sebagai Pak Doni.
Rini menggeleng “ Sudah dua hari Mamah ngga pulang. Saya tidak tahu Mamah pergi kemana.”
“Papahmu, ada?” tanya Pak RT.
“Ada apa sih ribut-ribut?!” mendengar suara ayahnya, Rini mundur dan membiarkan ayahnya saja yang maju.
“Bu Mira mana, Pak Firman?”
“Mana saya tahu, sudah minggat kali!” bentak Firman, karena ia kesal karena melihat tetangga yang selalu mencampuri kehidupannya.
“Pak Firman, kali ini saya mendapatkan laporan yang serius. Dua malam yang lalu ada yang melihat Bapak menggotong karung yang cukup besar dan melemparkannya ke sungai. Lalu menurut laporan Pak Doni, sudah sua hari Bu Mira tidak ada, Jadi...”
“Jadi kalian menuduhku membunuh istriku sendiri?” seru Firman garang.
“Maaf Pak, jadi Bapak harus kami serahkan kepada pihak yang berwajib supaya perkara ini bisa jelas.”
“Apa?”
“Jangan bawa Papah!!! Papah!!” ucap Rini sambil berteriak.
“Tunggu Papah di sini, nanti Papah pulang!”
Rini menyaksikan tubuh ayahnya yang dibawa pergi oleh belasan pria itu. Ia bersimpuh lemas di lantai. Benarkah itu? Benarkah ayahnya telah membunuh ibunya? Tapi memang mencurigakan. Ibunya mendadak raib begitu saja tanpa jejak. Rini sudah memeriksa pakaiannya, tidak ada satu pun yang kurang. Bahkan perhiasan emas yang cuman beberapa gram dan di sayang-sayang pun masih utuh dan lengkap. Batik-batik peninggalan neneknya pun yang kata ibunya bisa mahal kalau dijual semua masih lengkap. Kalau memang ibunya kabur dari rumah, tentunya semua barang itu dibawa. Apa benar ayahnya telah membunuh ibunya? Kalau itu benar...
Rini menangis. Kalau itu benar bagaimana dengan dirinya....???
Rini membuka pintu, di hadapannya ada Om Hary yaitu kakak dari ayahnya Rini yang ingin menajak Rini untuk tinggal bersamanya. Tak banyak barang yang di bawa Rini, cuman beberapa helai baju yang masih bagus. Ketika Rini melihat kamarnya pandangannya tertuju kepada kalung mungil yang berada di kotak kaca dan itu merupakan pemberian terakhir dari ibunya.
Mamah apakah kau sekarang sudah di Surga? Dendamkah Mamah sama Papah? Rintihnya.
Rini menangis kembali. Ia benci ayahnya. Bagaimana ia dapat menghadapi pria itu lagi setelah semua kejadian ini? Sekarang ia harus tinggal bersama orang yang tak terlalu dikenalnya. Tuhan lindungilah aku, doanya.
“Jangan Khawatir soal barang-barang kamu. Nanti Om akan menyuruh orang untuk mengepak semuanya dan membawanya ke rumah Om, biar disimpan di gudang, supa nanti kalau kamu mau tinggal sendiri sudah punya barang-barang.” Kata Om Hary seolah tahu maksud dari gadis itu.
“Terima kasih Om.” Kata Rini.
***
Matahari bersinar cerah di langit biru berwarna putih. Pemandangan indah itu melatarbelakangi rumah cantik bercat putih dan coklat muda yang terletak di kompleks yang mewah. Mereka masuk ke dalam rumah, dan Rini melihat gadis berkuncir satu duduk membelakanginya. Gadis itu sedang bermain piano di ruang tamu.
“Papah kok engga bilang-bilang sudah pulang, ngagetin saja. Pah dia siapa?” mata anak gadis itu tertuju kepada Rini.
“Oh ya, Papah lupa mengenalkan kalian, Ini Rini yang akan tinggal bersama kita.” Kata Om  Hary.
Reny teridam. Namun Reny tak menunjukkan wajah gembira atau tidak suka mendengar keputusan ayahnya.
 “Bentar aku panggilkan dulu Mamah ya Pah.” Kata Reny.
Hary mengangguk dan menyuruh Rini duduk  di sofa. Reny masuk ke ruang tengah sambil memanggil-manggil Mamahnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan wanita yang sangat cantik, dengan pakaian masa kini dan tatanan rambut terbaru. Dan juga seorang pemuda yang usianya kira-kira lebih tua dari Reny.
“Ada apa, Pa. Reny teriak memanggilku seperti kebakaran jenggot saja, ada apa?” seru wanita cantik itu terburu-buru menghampiri Hary.
“Mah aku hanya ingin mengenalkan saja dia Rini keponakan aku yang akan tinggal di sini bersama kita dalam beberapa waktu. Rini kenalkan ini Tante Siska dan ini Rizky kakaknya Reny.” Kata Om Hary sambil mengenalkan anggota keluarganya.
“Rini kamu tinggal di kamar Reny saja  ya.” Ujar Hary.
“Ya.... Papah.” Protes Reny.
“Reny kamu mulai membantah, ya?” ucap Hary.
Siska menyela “Biarkan Rini tinggal di kamar belakang saja, aku rapikan terlebih dahulu.”
“Tapi itu kan bekas kamar pembantu mah. Asyik ada pembantu baru.” Ucap Rizky.
“Rizky, Rini ini bukan pembantu, dia adalah sepupu kamu.” Ucap Hary dengan tegas.
“Rini kamu ikut tante ya. Karena sementara ini tidak ada pembantu jadi kamu harus mencuci baju sendiri, bisa kan Rini?” ucap Hary dengan ramah.
Mereka pergi ke sebuah kamar yang berukuran 2 X 3 meter yang letaknya dekat dengan dapur. Rini tahu ini bekas kamar pembantu, berdasarkan percakapan tadi. Tapi ia sudah bersyukur mendapatkan tempat tinggal. Lagi pula di rumah yang dulu tidak jauh berbeda dengan yang ini. Setelah dirapikan, sekarang kamar ini berisi tempat tidur pendek untuk satu orang, rak rotan, sebuah meja dan kursi. Menurut Rini sekarang kamar ini cukup lumayan.

2 komentar: